1. Pendahuluan
Sesuai dengan Aturan Peraturan HKBP tahun 2002 (2.5.a
hl.118) yang disebut dengan seksi Pemuda (naposobulung) adalah
persekutuan semua pemuda jemaat, laki-laki dan perempuan, yang berusia
di atas usia remaja (di atas usia 18 tahun; remaja 12 – 18 tahun) dan
belum menikah, serta terdaftar sebagai warga jemaat. “Bungabunga ni
Huria”, demikianlah sebutan yang sering kita dengar di tengah-tengah
Gereja Huria Kristen Batak Protestan untuk menyebut Naposobulung
(pemuda). Sebutan ini tentunya tidak lahir begitu saja dan hanya sebutan
kosong; dengan sebutan pemuda sebagai “bunga-bunga ni huria” di
dalamnya terkandung harapan dari kehidupan dan kehadiran naposobulung
ditengah-tengah jemaat akan tercipta persekutuan yang indah dan menarik
yang keharumannya dapat dirasakan dan dinikmati orang-orang di
sekelilingnya. Tentu hal tersebut hanya dapat terjadi ketika
naposobulung memahami makna dan arti kehadirannya di tengah-tengah
jemaat. Sebagai “bunga-bunga ni huria” pemuda juga terpanggil dan diutus
untuk berperan serta dalam setiap pelayanan di tengah-tengah jemaat.
Menjadi pemuda yang partisipatif, kreatif dan inovatif di tengah-tengah
jemaat, bukan pemuda yang harus selalu dilayani atau menuntut pelayanan
dari orang-orang di sekitarnya (gereja). Pemuda dengan semua potensi
yang dimilikinya merupakan aset berharga yang dimiliki gereja,
masyarakat dan negara. Tidaklah berlebihan jika pemuda disebut juga
sebagai tiang gereja, masyarakat dan negara; dimana sejarah kebangkitan
nasional, dunia, alkitab dan gereja telah membuktikan bagaimana peranan
para pemuda yang sangat vital dan bertenaga dalam menyuarakan dan
menciptakan perubahan. Sudah saatnya pemuda HKBP bergerak dan menjadi
subjek pelayanan, tidak lagi bersifat menunggu dan pasif dalam pelayanan
gereja dan masyarakat; pemuda gereja harus menjadi berkat bagi banyak
orang.
2. Gereja Sebagai Tubuh Kristus
Terang dan Garam Dunia Gereja
(persekutuan orang-orang percaya) sebagai Tubuh Kristus di dunia ini
adalah orang-orang yang terpanggil dari kegelapan kepada terang yang
ajaib di dalam Yesus Kristus. Pemanggilan Allah kepada orang-orang
percaya adalah panggilan yang bermuatan tanggungjawab dimana orang-orang
percaya terpanggil untuk memberitakan perbuatan-perbuatan ajaib yang
dilakukan Tuhan kepada dunia ini. Dalam rangka tugas panggilan tersebut
di tengah-tengah gereja dirumuskan Tri Tugas Panggilan Gereja, yaitu:
Persekutuan (Koinonia), Kesaksian (Marturia) dan Pelayanan (Diakonia).
Ketiga tugas panggilan gereja ini melekat di dalam diri orang-orang
percaya, dalam hal ini termasuk naposobulung. Untuk melaksanakan tiga
tugas panggilan gereja tersebut, kepada orang-orang percaya diberikan
karunia-karunia atau talenta sesuai dengan pemberian Roh. Semua karunia
atau talenta tersebut sama pentingnya, tidak ada satupun diantara
karunia itu lebih penting dan lebih utama dari yang lainnya, tetapi
semuanya sama-sama penting dalam rangka pembangunan Tubuh Kristus, yaitu
jemaat. Dengan karunia atau talenta yang dimilikinya, gereja dan
orang-orang percaya memainkan peranannya menjadi terang dan garam di
tengah-tengah dunia ini. Kehadiran gereja dan orang-orang percaya harus
membawa perobahan ke arah yang lebih baik, mempunyai kekuatan untuk
mempengaruhi lingkungan sekitarnya, membawa damai sejahtera dan sukacita
serta memberikan alternatif kehidupan yang lebih baik kepada
orang-orang yang Tuhan tempatkan disekitarnya. Seperti apakah peranan
pemuda (naposobulung) di dalam tri tugas panggilan gereja tersebut?
Seperti telah disebutkan di atas bahwa pemuda adalah generasi penerus
gereja, tiang gereja dan bungabunga ni huria mempunyai peranan yang
sangat penting sehingga tri tugas panggilan gereja tersebut dalam
berjalan secara baik dan maksimal.
3. Pemuda Dan Persekutuan
Menjadi
Teladan Bagi Generasi di Bawahnya Salah satu dari tri tugas panggilan
gereja adalah Koinonia (bersekutu), di gereja HKBP dikenal seksi sekolah
minggu, remaja, pemuda, wanita, bapak dan lanjut usia. Di dalam
persekutuan inilah terkumpul potensi-potensi yang dimiliki anggota
jemaat. Persekutuan sangat menentukan dapat tidaknya pelayanan berjalan
dengan baik. Hanya dengan terciptanya persekutuan yang baik maka akan
tercipta kerjasama yang baik menyatukan potensi-potensi yang dimiliki
untuk mewujudkan tugas panggilan gereja. Oleh sebab itu, dalam hal
pemuda memperan serta dalam pelayanan maka harus diciptakan dahulu
persekutuan yang baik di tengah-tengah pemuda gereja sehingga
persekutuan tersebut menarik bagi orang lain untuk terlibat di dalamnya.
Tidak ada ruang untuk mengembangkan kelompok-kelompok yang dianggap
penting sedang yang lain hanya penggembira saja, sebab hal yang demikian
dapat menimbulkan perpecahan dan pelayanan tidak dapat berjalan dengan
baik. Selain itu, pemuda dalam persekutuannya harus terbuka terhadap
kategorial yang lainnnya khususnya kepada kategorial sekolah minggu dan
remaja. Pemuda harus menjadi teladan bagi adek-adeknya sekolah minggu
dan remaja, bahkan pemuda hendaknya terlibat dalam pelayanan dan
pembinaan rohani bagi mereka (menjadi partner kerja majelis), misalnya
menjadi guru sekolah minggu atau terlibat dalam pelaksanaan
kebaktian-kebaktian atau penelahaan alkitab. Dengan keterlibatan pemuda
dalam pelayanan di kategorial sekolah minggu dan remaja (secara khusus
kategorial remaja) diharapkan regenerasi persekutuan pemuda dapat
berjalan dengan baik. Anak remaja tidak gamang memasuki wilayah pemuda
karena dia sedikit banyak sudah mengenalnya. Sebab sering terjadi di
tengah-tengah gereja ada masa-masa di mana anggota persekutuan pemuda
secara kuantitas sedikit, sedang gereja sudah menamatkan 2 sampai 3 kali
pelajar katekhisasi sidi. Kenapa? Karena remaja tadi tidak
diperkenalkan lebih dahulu persekutuan pemuda, dia masuk ke persekutuan
remaja risih sedang masuk ke persekutuan pemuda ragu-ragu. Untuk
mengatasi hal tersebut pemuda harus proaktif memperkenalkan persekutuan
pemuda, sehingga remaja-remaja pada waktunya dengan keinginan dan
kerinduannya mau melibatkan diri ke dalam persekutuan pemuda; maka
terciptalah persekutuan pemuda yang berkesinambungan di tengah-tengah
gereja.
4. Pemuda Dan Kesaksian
Boan Sadanari (bawa satu orang lagi)
Saat ini yang sering dikeluhkan dan dipergumulkan di tengah-tengah
gereja HKBP adalah semakin banyaknya generasi muda yang meninggalkan
HKBP dan bergereja serta aktif di gereja lain, khususnya aliran
kharismatik (sering disebut eksodus atau jajan rohani karena kewargaanya
tetap terdaftar di HKBP atau ikut orangtua). Alasan yang sering kita
dengar sehingga banyak warga HKBP khususnya pemuda jajan rohani atau
eksodus adalah ibadah di HKBP monoton dan pelayanannya tidak menyentuh
jemaat. Dibeberapa gereja HKBP, khususnya di Jakarta dan kota-kota besar
lainnya, sudah dilakukan ibadah alternatif atau ibadah khusus, dimana
dalam ibadah dipakai alat musik yang lebih bersemangat dan dalam ibadah
melibatkan jemaat (partisipasi jemaat) sehingga ibadah lebih hidup dan
menarik. Dengan ibadah ini diharapkan pemuda gereja kembali lagi
beribadah di HKBP. Apakah benar demikian? Mungkin benar tetapi tidak
sepenuhnya demikian. Tahun 2008 ini telah di tetapkan HKBP menjadi tahun
Marturia (kesaksian) dengan motto: BOAN SADANARI. Di tahun marturia
ini, pemuda HKBP hendaknya mengambil peran serta untuk menggalakkan
tahun marturia dengan mamboan sadanari (membawa satu orang) pemuda HKBP
yang sudah meninggalkan HKBP atau tidak aktif lagi di HKBP kembali ke
HKBP. Dalam membawa satu orang lagi tentu pemuda ditengah-tengah
persekutuannya harus menciptakan kegiatan-kegiatan yang lebih menarik.
Membentuk wadah-wadah yang dapat mengakomodir talenta-talenta pemuda
yang selama ini terpendam untuk disalurkan dalam pelayanan di
tengah-tengah gereja, misalnya bermain musik, olahraga, menulis
cerita/puisi dan lain-lain. Mereka (pemuda) juga dapat dilibatkan di
dalam seksi-seksi yang ada di Dewan Marturia di seksi sending dan musik.
Artinya pemuda lebih menunjukkan partisipasinya dan keterlibatannya
dalam pelayanan sehingga, dia tidak hanya terlibat dalam seksinya saja.
Dalam hal ini, diharapkan majelis harus mau membuka ruang bagi
partisipasi dan keterlibatan pemuda dalam pelayanan dan membuka pintu
untuk pembaharuan yang diinginkan pemuda tanpa harus meninggalkan warna
atau ciri khas HKBP dan memperhatikan aturan dan konfessi HKBP.
5.
Pemuda Dan Pelayanan
turut serta dalam kegiatan sosial Dalam hal
kegiatan sosial, sangat banyak yang dapat dilakukan pemuda.
Kegiatan-kegiatan yang langsung menyentuh kebutuhan jemaat, khususnya
jemaat yang kurang mampu. Pemuda dapat membuka pelatihan-pelatihan di
gereja, membuka kursus-kursus sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki
dan berguna untuk mencerdaskan jemaat; sebab tidak semua jemaat dapat
membiayai anaknya mengikuti kursus-kursus yang memang membutuhkan biaya
yang tidak sedikit. Pada musim ujian akhir (ujian akhir nasional) pemuda
dapat juga memberikan bimbingan kepada anak-anak anggota jemaat yang
akan mengikuti ujian nasional tersebut. Pemuda harus berperan aktif
menciptakan dan membuat gereja menjadi pusat pembelajaran dan pembinaan,
sebab pemuda memiliki potensi untuk melakukan hal tersebut. Pemuda juga
harus memiliki keprihatinan terhadap tingginya tingkat pengangguran
saat ini. Pengangguran yang mengakibatkan semakin banyaknya orang yang
miskin, putus asa, dan meningkat pula perbuatan-perbuatan kriminalitas
di tengah-tengah masyarakat. Dalam mencermati keadaan ini, pemuda dapat
juga berperan membuka jaringan-jaringan kepada perusahaan, instansi atau
lembaga tertentu dalam hal informasi mengenai lowongan pekerjaan bagi
warga jemaat. Tentu masih banyak lagi pelayanan-pelayanan yang
berhubungan dengan sosial yang dapat dilakukan pemuda gereja, misalnya
mengunjungi orang sakit anggota jemaat (membentuk tim doa), turut serta
dalam kegiatan penghiburan, bahkan membuka pemuda dapat melakukan
pengobatan dan pembinaan-pembinaan tentang kesehatan masyarakat, paling
sedikit memfasilitasinya.
6. Penutup Masa muda bukanlah menjadi
penghalang bagi kita untuk turut serta dalam pelayanan, memikul
tanggungjawab untuk melakukan tri tugas panggilan orang-orang percaya,
yaitu bersekutu, bersaksi dan melayani. Rasul Paulus mengatakan “jangan
seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda…” (1 Tim. 4: 12).
Masa muda adalah masa yang indah untuk melayani, waktu untuk berkarya
dan berbuah bagi Tuhan. Tunjukkanlah bahwa kamu pun bisa dan mempunyai
kapasitas untuk di andalkan dalam pelayanan di tengah-tengah gereja dan
masyarakat. Kehadiranmu di gereja bukan untuk dilayani tetapi untuk
melayani, pelayananmu tidak identik hanya paduan suara (koor) belaka,
diluar itu masih banyak yang dapat kamu lakukan dan persembahkan untuk
Tuhan. Melayani itulah yang diinginkan Tuhan darimu pada masa mudamu
ini. SELAMAT BERKARYA DAN MELAYANI.